Selasa, 21 Februari 2012

Pemulihan Hutan Indonesia Melalui Skema Restorasi Ekosistem







Ilustrasi, inilah salah satu kawasan Taman Nasional Sebangau yang perlu dijaga kelestarinya.  Foto :Beritalingkungan.com/Bina Karos.

Ilustrasi, inilah salah satu kawasan Taman Nasional Sebangau yang perlu dijaga kelestarinya. Foto :Beritalingkungan.com/Bina Karos.
JAKARTA, BERLING- Hutan yang terdegradasi akibat eksploitasi berlebihan sehingga tidak produktif harus segera dipulihkan. Skema Restorasi Ekosistem atau Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) menjadi salah satu pilihan untuk memulihan yang terdegrasi tersebut.

 “IUPHHK-RE merupakan izin usaha yang diberikan untuk membangun kawasan dalam hutan alam pada hutan produksi yang memiliki ekosistem penting sehingga dapat dipertahankan fungsi dan keterwakilannya” ungkap Iman Santoso, Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan, pada workshop “Dukungan Kebijakan Finansial Pengembangan Usaha Restorasi Ekosistem pada Hutan Alam Produksi di Indonesia di Hotel Peninsula, Jakarta (14/02) kemarin.  

Iman menambahkan, izin usaha restorasi ini dilatari guna mempertahankan fungsi hutan sehingga terpelihara keberadaannya disamping mengoptimalkan jasa lingkungan dan jasa kawasan pada areal restorasi. “Sedangkan kawasan hutan yang dapat dimohon untuk areal restorasi ekosistem diutamakan pada hutan produksi yang tidak produktif dan dicadangkan atau ditunjuk oleh menteri kehutanan sebagai areal restorasi ekosistem” jelas Iman.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No P.61/Menhut-II/2008, restorasi ekosistem diartikan sebagai upaya untuk mengembalikan unsur hayati yakni flora dan fauna serta non-hayati yakni tanah dan air pada suatu kawasan dengan jenis asli, sehingga tercapai keseimbangan hayati dan ekosistemnya. 

Kebijakan restorasi ekosistem di hutan produksi ditandai dengan dikeluarkannya Permenhut Nomor: SK.159/Menhut-II/2004 tentang Restorasi Ekosistem di Hutan Produksi. Kebijakan ini memungkinkan untuk pertama kalinya hutan produksi dimanfaatkan untuk tujuan restorasi ekosistem, bukan pemanfaatan kayu

Tahun 2007, kebijakan restorasi ekosistem diperkuat dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan serta Pemanfaatan Hutan. Dengan kebijakan tersebut, kegiatan restorasi ekosistem di hutan produksi menjadi satu jenis izin baru di hutan alam yang selanjutnya lebih dikenal dengan IUPHHK Restorasi Ekosistem di hutan alam. Regulasi dimaksud telah memungkinkan hutan produksi dapat dikelola untuk kepentingan pemulihan ekosistem, pelestarian keanekaragaman hayati serta pengelolaan aneka usaha kehutanan (multiple use of products). 

Sementara Dian Agista, Task Manager for Ecosystem restoration Development Burung Indonesia, mengatakan, dukungan pemerintah bagi usaha restorasi ekosistem perlu direalisasikan. Wujudnya, berupa kebijakan dalam proses perijinan serta dukungan finansial melalui penetapan tarif yang lebih rasional.

Menurut Dian, penetapan tarif belum memberikan kemudahan bagi upaya pemulihan hutan di kawasan restorasi ekosistem. Tarif iuran IUPHHK-RE perlu disesuaikan menurut tipologi tutupan kawasan. Kawasan yang terdegradasi berat seharusnya membayar iuran di bawah tarif untuk hutan alam produksi yang dieksploitasi.

Perlu diberikan pula kemudahan usaha pemanfaatan kawasan, hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan, yang seyoganya dapat dilakukan tanpa harus memohon izin baru. Unit pengelola cukup memasukkan usaha-usaha yang tidak berbasis penebangan kayu ke dalam rencana kerja.

Kendala yang dihadapi selama ini adalah lambatnya proses pencadangan. Penetapan areal pencadangan untuk restorasi ekosistem perlu ditunjukan kepada publik secara transparan, dan dimutakhirkan secara berkala. ”Selain itu, pemerintah daerah perlu dilibatkan pula pada proses pencadangan” lanjut Dian. 

Hingga September 2011, jumlah pemohon ijin restorasi ekosistem mencapai 38 pemohon. Namun, baru empat izin usaha restorasi ekosistem saja yang diterbitkan, yang luasnya sekitar 200.000 hektar. Kementerian kehutanan sendiri pada tahun 2010 telah menargetkan terbitnya izin restorasi ekosistem untuk kawasan seluas 2,5 juta hektar.

Diperkirakan, terdapat sekitar 30 juta hektar kawasan hutan produksi yang tidak dibebani izin. Pengalaman menunjukkan, kawasan tanpa unit pengelola yang efektif akan berpotensi membuka akses dan pemanfaatan secara ilegal. Selain itu, penyumbang deforestasi terbesar di kawasan hutan adalah pada kawasan hutan produksi sebesar 49 persen.

Sebagai bentuk investasi dan usaha baru di bidang kehutanan, IUPHHK-RE sewajarnya mendapatkan dukungan dan insentif. Mengingat, usaha ini akan berkontribusi penting dalam memulihkan ekosistem hutan. Namun, investasi yang diperlukan untuk menjalankan IUPHHK RE tidaklah kecil, karena areal yang diusahakan adalah bekas pengusahaan hutan (HPH) dan umumnya telah mengalami “open access”. 

Hingga saat ini Burung Indonesia bersama Konsorsium BirdLife telah memperoleh ijin IUPHHK-Restorasi Ekosistem di kawasan hutan produksi seluas 98.555 hektar di Jambi dan Sumatera Selatan. Kawasan tersebut dinamakan Hutan Harapan yang merupakan kawasan Restorasi Ekosistem pertama di Indonesia. 

Satu Pohon, Satu Pendaki



satu pohon untuk lingkungan yang lebih baik.

satu pohon untuk lingkungan yang lebih baik.
Satu pohon, satu pendaki"adalah satu dari sekian himbauan menarik yang diposting penggiat group facebookKedaipetualang.com, sebuah komunitas social media yang menghimpun berbagai pendaki dan penggiat petualangan.
Aktivitas pendakian gunung dan petualangan alam terbuka merupakan kegiatan positif, yang banyak digeluti oleh organisasi pencinta alam maupun penggiat alam independen lainnya. Mendaki gunung membuat kita semakin dekat dengan alam, menyadari kebesaran Tuhan, melatih fisik dan mental serta memperkuat persahabatan dan rasa solidaritas antar sesama.
Namun mungkin akan jauh lebih berarti, bila kita memberikan kontribusi bagi pelestarian lingkungan dan hutan Nusantara. Alam liar, hutan dan puncak gunung merupakan rumah bagi penggiat alam terbuka termasuk para pendaki gunung.
Sayangnya kini hutan dan lereng - lereng gunung di Indonesia banyak digunduli dan terbakar api, akibatnya hutan kita tak lagi hijau. Lalu apa yang bisa kita lakukan? caranya mudah saja, satu pohon, satu pendaki. Cobalah hal baik itu kita mulai terapkan dan tradisikan setiap kali kita mendaki gunung, tak kebayang, ada berapa banyak pohon yang akan ditanam, apabila dalam rombongan pendaki misalnya 10 orang pendaki, minimal ada 10 pohon untuk di tanam di lereng gunung setiap kali mendaki. Apabila setiap gunung dalam hitungan satu hari saja, ada lebih dari 100 pendaki? bayangkan saja berapa pohon yang akan tertanam? dan berapa luas hutan bisa dihijaukan kembali setiap kali ada aktivitas pendakian?
Mulailah dari diri sendiri, lalu sebarkan virus kebaikan ini ke komunitas, entah itu Kelompok Pencinta Alam (KPA) atau Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA) yang banyak tersebar di berbagai kampus di Indonesia.  Dengan membiasakan aktivitas menanam pohon setiap kali mendaki, tentu aktivitas petualangan kita di lereng-lereng gunung akan jauh lebih bermakna.
Satu pohon memberi seribu makna bagi kelestarian lingkungan dan keberlanjutan kehidupan, tak heran kalau jauh sebelum isu pelestarian lingkungan digaungkan oleh para aktivis lingkungan, Nabi Muhammad SAW, jauh-jauh hari telah berpesan: “Apabila esok kiamat terjadi, sementara di tanganmu ada bibit kurma, maka jika mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, tanamlah!” (H.R. Ahmad).
Bila kita melihat dari perspektif keduniaan, kita akan bertanya untuk apa menanam pada ketika segala sesuatu sudah tidak berguna lagi (kiamat). Bila kita menanam sementara esoknya kiamat, pasti kita tak kan dapat menuainya. Oleh karena itu,dibalik pernyataan hadits tersebut terdapat makna bahwa menanam biji yang ikhlas karena Allah swt. pasti akan menuai pahalanya di akhirat kelak.
Marilah merawat bumi yang kita tempati ini dengan melakukan hal kecil nah sederhana, namun memberi banyak manfaat, satu pohon, satu pendaki untuk bumi yang lebih baik.

Perusahaan Peduli Lingkungan Untung Lebih banyak, Lho...





Kereta api ramah lingkungan, KA Argo Bromo yang sudah dipermak ulang oleh PT Inka. Foto : Istimewa.

Kereta api ramah lingkungan, KA Argo Bromo yang sudah dipermak ulang oleh PT Inka. Foto : Istimewa.
JAKARTA, BERLING - Penasihat konsultan senior kebijakan perubahan iklim Bank Dunia, Mubariq Ahmad mengatakan perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan akan lebih untung baik dari segi keuangan maupun citra perusahaan.
"Semakin green semakin tinggi keuntungannya, perkembangan harga sahamnya juga semakin bagus," kata Mubariq usai diskusi peluang dan tantangan menuju green economy dengan indeks Sri Kehati di Jakarta, Rabu kemarin seperti dilansir Antara.
Dia mengatakan, secara konkret keuntungan tersebut bisa langsung dirasakan misalnya dengan membenahi internal perusahaan untuk berhemat energi misalnya dengan hemat dalam penggunaan listrik, menggunakan lampu hemat energi, mematikan komputer saat tidak digunakan. Hal-hal kecil tersebut yang seakan tidak ada artinya suatu waktu akan sangat bermanfaat secara finansial, kata Mubariq.
Pembenahan internal perusahaan juga dilakukan dengan betul-betul memperhatikan dampak tindakannya terhadap lingkungan misalnya pada industri pengolah kayu, berapa persen kayu yang diolah itu betul-betul termanfaatkan menjadi produk.
Keuntungan secara finansial dapat langsung dilihat melalui indeks Sri Kehati yang menunjukkan dalam dua tahun perjalanannya sejak 2009 terbukti bahwa 25 perusahaan yang tercatat dalam indeks tersebut tingkat kenaikan harga sahamnya per tahun itu sejauh ini lebih dari 25 persen."Ini membuktikan bahwa betul semakin bersih secara lingkungan semakin beruntung perusahaan dan di pasar modal sahamnya juga semakin tinggi dan ada keuntungan lainnya secara performance," tambahnya.
Keuntungan tersebut yaitu keberlanjutan perusahaan, dengan indeks Sri Kehati terlihat bahwa perusahaan akan berumur panjang dan bertumbuh terus. Selain itu, dari segi tanggung jawab sosial, karena indeks Sri Kehati itu juga mencakup faktor-faktor sosial jadi terlihat perusahaan ini secara sosial juga bertanggung jawab.
Menurutnya, dari segi kepedulian terhadap lingkungan baru sekitar 30 persen perusahaan yang memiliki kepedulian dan baru sebagian kecil perusahaan yang mempraktikkannya. "Dugaan saya kurang dari satu persen perusahaan yang mempraktikkan kepedulian lingkungan dalam setiap kegiatannya," tambah Mubariq. (Ant).

Menikmati Kesegaran Curug Pegunungan Tatar Sunda



Air terjun di tengah perjalanan ke Curug Seribu. Foto : Melodya Apriliana

Air terjun di tengah perjalanan ke Curug Seribu. Foto : Melodya Apriliana
Salah satu resolusi Melodya Apriliana yaitu menjadikan 2012 sebagai sebagai "Tahun Jelajah". Ini sebagai bentuk apresiasi dan kecintaan Melody terhadap kekayaan alam Nusantara.
Melody mengawali penjelajahan tahun ini dengan mengunjungi wisata Gunung Salak Endah, yang dikenal sebagai  salah satu areal pemijahan alami di wilayah Tatar Sunda dan memiliki sejumlah curug ini. Berikut catatan jalan-jalan cewek yang senang mengabdikan dirinya pada upaya pelestarian lingkungan hidup ini.
Awalnya, saya berencana pergi bersama dua orang kawan. Namun, hingga berangkat, saya tidak dapat kepastian dari salah satunya. Saya berangkat Selasa, 3 Januari 2012 pagi dengan KRL Ekonomi tujuan Bogor dari Stasiun Cikini, Jakarta. Walau belum pernah bertemu sama sekali, namun tidak sulit mengenali kawan saya yang menunggu di depan ATM Bank Danamon di Stasiun Bogor. Cari saja manusia berkacamata dengan wajah cupu, itulah dia Dony. Hehe..
Kira-kira pukul setengah sembilan, kami naik Mikrolet 03 jurusan Bubulak dan turun di Terminal Laladon setelah satu jam perjalanan. Dari Terminal Laladon, kami lanjut naik Mikrolet 53 jurusan Segog selama dua jam. Kami turun di pangkalan akhir angkutan umum tersebut dan naik ojek selama setengah jam menuju kawasan Wisata Gunung Salak Endah.
Kawasan Wisata Gunung Salak Endah memiliki objek wisata berupa enam air terjun atau curug (Cigamea, Seribu, Ngumpet, Cihurang, Luhur dan Nangka) serta satu kawah (Kawah Ratu). Tujuan pertama kami adalah Curug Cigamea, air terjun terdekat yang kami temui. Untuk menuju ke lokasi air terjun, kami harus berjalan turun ±350 meter. Karena sudah menjadi objek wisata komersil, kondisi jalan setapak menuju lokasi sudah tersusun rapi membentuk susunan anak tangga. Kami juga menemukan banyak warung makan dan tempat peristirahatan di sepanjang jalan menuju air terjun.
Curug Cigamea I
Setelah menuruni ratusan anak tangga, sampailah kami di Curug Cigamea pada pukul sebelas. Curug ini terdiri dari dua air terjun utama. Air terjun pertama yang lebih dekat dari jalan masuk, memiliki tebing batu berwarna kehitaman. Sementara air terjun kedua yang terletak kira-kira 30 meter di sebelahnya, mengalir deras di atas tebing batu bercorak garis kemerah-merahan. Di bawahnya terdapat kolam limpahan air berwarna hijau keruh dimana pengunjung dapat berenang di sana. Sejenak, kami menikmati kesegaran udara Curug Cigamea sembari memotret beberapa gambar. Curug Cigamea memang sudah cukup terkenal di kawasan ini, alhasil banyak sampah berceceran di sana-sini karena banyaknya pengunjung yang datang. Sayang.
Saya menyantap semangkuk mie rebus di sebuah warung dekat air terjun ini sembari mengobrol bersama kawan saya dan menunggu redanya gerimis. Pukul duabelas, kami kembali naik keluar kawasan Curug Cigamea dan melanjutkan perjalanan ke Curug Seribu dengan berjalan kaki. Curug Seribu terletak 3,5 kilometer dari Curug Cigamea dan memiliki jalur yang lebih sulit. Semakin jauh kami berjalan, jalur yang kami lalui semakin sepi dan berbatu, hingga membuat kami beberapa kali hampir tersesat. Setelah sampai di pintu masuknya, kami belum mendengar suara air terjun sedikitpun.
Jalur menuju Curug Seribu
Berbeda dengan Curug Cigamea yang ramai, warung-warung di sekitar pintu masuk Curug Seribu terlihat tutup semua. Ternyata perjalanan yang harus kami tempuh masih panjang. Kali ini kami harus berjalan memasuki hutan tropis di tengah kabut tebal dan berjalan di atas bebatuan yang sempit dan licin. Kami sempat melewati camping ground kawasan ini yang terlihat seperti sebuah savana, dengan hamparan rerumputan hijau dan pepohonan yang tidak besar namun cukup teduh. Berselimutkan kabut, indah sekali. Saya ingin camping di sana suatu hari nanti.

Curug Seribu setinggi 80 meter
Setelah lumayan jauh berjalan dari camping ground, kami mulai mendengar suara air terjun. Kami pun melewati sebuah curug kecil, namun bukan curug itu yang menjadi tujuan kami. Berbekal tekad, kami terus berjalan naik, turun, memutar, mengikuti samar-samar suara air terjun yang sepertinya besar. Walau lelah, namun pemandangan yang alami dan keasrian alam kawasan ini bak cheerleader buat kami untuk terus mengejar sang curug. Akhirnya, setelah satu jam “berjuang”, sampailah kami di Curug Seribu; air terjun gagah dengan ketinggian 80 meter dan bisa membuat orang basah dalam radius 30 meter hanya dalam beberapa menit saja.
Speechless adalah kata yang pas buat saya saat sampai di air terjun ini. Saya takjub karena berhasil menempuh perjalanan yang melelahkan untuk sampai di sini, sekaligus bersyukur menjadi orang Indonesia yang memiliki kekayaan alam begitu luar biasa. Tak lama setelah sampai, hujan mulai turun sehingga kami harus berteduh di pinggir tebing, di sebuah bangku kayu beratapkan terpal yang sangat sederhana.
Curug Seribu terdiri dari tiga air terjun dengan ketinggian yang sama, namun yang paling besar terletak di sisi kiri. Dengan tebing yang curam dan bebatuan besar berwarna coklat kemerahan di bawahnya, curug ini adalah air terjun terbesar yang pernah saya kunjungi. Saat beristirahat, saya baru sadar bahwa tidak ada lagi pengunjung di sana saat itu kecuali kami berdua, dan beberapa orang pria yang sedang membangun sebuah pos di depan kami. Rasanya tempat ini seperti milik kami saja.
Di bawah rintik hujan dan riuh suara derasnya air terjun, kawan saya bercerita tentang empat orang pengunjung Curug Seribu yang terenggut nyawanya beberapa waktu lalu karena berenang di tengah kolam limpahan air curug ini. Kolam tempat air terjun ini bermuara memang sangat besar, apalagi ketika debit air sedang tinggi saat musim hujan seperti ini. Ombak-ombak yang terbentuk di bawah air terjun menjadi semakin dahsyat. Kawan saya bilang, kolam tersebut berkedalaman sekitar 20-30 meter dan memiliki pusaran air yang kuat. Kejadian mengenaskan tersebut lah yang mendorong didirikannya pos di depan kami ini.
Kawasan ini masih sangat asri, dan yang paling asri yang pernah saya ketahui setelah Desa Sarongge di Gunung Gede, Jawa Barat. Saya sendiri heran kenapa Curug Seribu bisa terjaga kealamiannya seperti ini. Pasti karena jalur yang sulit ditempuh, sehingga tidak banyak orang yang ingin mengunjungi tempat ini—kecuali mereka yang memiliki hasrat jelajah yang tinggi dan begitu mencintai Indonesia, seperti kami.

Satu jam lamanya kami mengobrol. Dari cerita-cerita lokal kawasan ini, hingga tempat-tempat di Indonesia yang mungkin selanjutnya bisa kami kunjungi. Pukul dua, dengan berat hati, kami meninggalkan Curug Seribu dengan segala keajaibannya yang belum terjamah tangan-tangan jahil. Perjalanan pulang kami terasa lebih sulit karena harus menempuh jalur yang meninggi. Untuk pertama kalinya saya berharap Doraemon itu benar-benar ada dan memberikan baling-baling bambu buat saya. Dan benar kata kawan saya, Gunung Salak bagai mimpi buruk buat mereka yang tak biasa mendaki gunung. Menurut saya, ini jauh lebih sulit daripada ketika saya berkeliling hutan tropis di Sarongge yang benar-benar jauh dari pemukiman.
Beberapa kali saya terpaksa berhenti saking lelahnya. Kaki saya begitu berat untuk diajak melangkah. Ditambah dengan tubuh saya yang dalam dua bulan ini naik 8 kilogram dan baju yang basah kuyup, semakin membuat tekad kian mundur. Saya tertinggal jauh di belakang kawan saya yang memang sudah biasa hiking. Akhirnya ia turun kembali, menuntun saya dan kami jalan bersama-sama sambil mengobrol. Sambil melangkah pelan, kami kembali melewati air terjun kecil dan camping ground yang indah berkabut. Tepat pukul tiga, kami sampai di pintu masuk Curug Cigamea, dimana supir ojek yang tadi mengantar kami sudah menunggu untuk membawa kami pulang.Melody dan Kabut
Di perjalanan pulang, kami kembali mengobrol sambil menyantap keripik jagung bawaan kawan saya. Mulai dari orang gila, sistem pendidikan Indonesia, sekolah, hingga kenapa logo Pecinta Alam dimana-mana selalu berbentuk segitiga. Kami tiba di Stasiun Bogor pukul setengah enam sore dan mampir di sebuah restoran Chinese food. Selesai makan, kami menunggu KRL Ekonomi tujuan Jakarta-Kota sambil berdiri kedinginan, menikmati pemandangan Gunung Salak dari peron, dan berbincang-bincang. Kali ini tentang Adam Young, musisi favorit saya, dan teori konspirasi. Kereta datang sekitar pukul setengah tujuh. Kawan saya turun di Stasiun Depok Baru, sementara saya lanjut hingga Stasiun Tanjung Barat.
Saya adalah orang yang cenderung menyukai perjalanan yang “sulit” daripada yang “mudah”. Saya akan memilih berwisata ke gunung daripada ke Mal atau tempat-tempat sejenis yang tidak memerlukan perjuangan tertentu. Bagi saya, walau melelahkan, alam menawarkan kepuasan tersendiri dan ilmu-ilmu kehidupan bagi manusia. Saya rasa menjadi penjelajah itu penting bagi setiap orang, karena menjelajah adalah saat dimana manusia benar-benar menjadi “manusia”; menggunakan seluruh indra dan kemampuan yang dimiliki untuk mengarungi keajaiban hasil karya Tuhan. Terlebih lagi kita yang tinggal di Indonesia; negeri yang kekayaan alam dan keanekaragaman budayanya tak pernah diragukan oleh siapapun.
Jujur, saya sangat bersyukur dilahirkan sebagai orang Indonesia. Saya tak perlu bersusah payah mengurus paspor dan visa, atau membeli tiket pesawat seharga jutaan rupiah untuk sekedar merasakan kehangatan khatulistiwa. Saya memiliki matahari setiap hari selama dua belas jam penuh, serta jutaan pantai dan gunung yang bisa saya kunjungi kapanpun saya mau.
Sore ini, saya terbangun dari indahnya tidur siang karena hujan deras yang mengguyur atap rumah. Tak lama setelah hujan berhenti dan kumulonimbus bergerak pergi, matahari kembali bersinar walau untuk berucap sampai jumpa. Saya tak melihat parasnya, namun saya sudah tertegun melihat cahayanya yang begitu jingga bersinar. Ya, senja setelah hujan memang selalu indah. Seperti hidup manusia yang kian diterpa badai, bersabarlah dan percaya bahwa badai pasti berlalu. Maka, setelah ia pergi, akan terlihat matahari yang jauh lebih indah dari yang biasanya tampak.
Saya masih ingat sekali sulitnya perjalanan pulang dari Curug Seribu kemarin. Beruntunglah saya tidak sendiri. Masih ada dia, yang rela turun kembali dan menuntun saya melangkah di atas terjalnya bebatuan sambil mengobrol, hingga perjalanan jauh tak terasa begitu menyeramkan lagi. Manusia memang selalu membutuhkan genggaman tangan sesamanya. Sekalipun ia merasa bisa melangkah sendiri, namun bersama-sama selalu lebih baik, bukan?
Mungkin orang menilai saya bodoh karena kemarin saya sengaja tidak menggunakan payung saat hujan turun, atau malas menggunakan sarung tangan di tengah dinginnya udara. Bukannya saya ingin jatuh sakit. Lagi-lagi saya hanya ingin menikmati segala pemberian Tuhan untuk bumi dan isinya. Saya sangat mencintai Tuhan, dan saya mewujudkannya lewat kecintaan saya terhadap alam ini. Senang rasanya bisa merasakan kasih sayang-Nya menyentuh tubuh saya, walau akhirnya saya kena flu begini.
Setiap perjalanan butuh perjuangan dan resiko. Namun, percayalah, tak ada yang lebih berharga selain keberanian dan pelajaran di balik tebalnya kabut ketakutan di atas jalur licin berbatu. Jatuhlah, maka kita akan tahu bagaimana cara untuk berdiri. Menggigillah, maka kita akan tahu betapa nyamannya hangat matahari. Hauslah, maka kita akan tahu segarnya rintikan air hujan. Berjuanglah, maka kita akan tahu betapa manisnya jatuh-bangun menggapai tujuan.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More